Berbagi ilmu seputar tips Android, root android, custom rom, dan info menarik seputar gadget

Wednesday, 25 January 2017

Makalah Konsep Diri serta Ciri-Cirinya


PENGERTIAN KONSEP DIRI SERTA CIRI-CIRINYA

1.      Pengertian Konsep diri
a.   Menurut Hurlock (dalam Nia, 2011 :  ) konsep diri adalah konsep seseorang dari siapa dan apa dia itu. Konsep ini merupakan bayangan cermin, ditentukan sebagian besar oleh peran dan hubungan dengan orang lain, dan apa yang kiranya reaksi orang lain terhadapnya. Konsep diri mencakup citra diri fisik dan psikologis. Citra diri fisik biasanya berkaitan dengan penampilan, sedangkan citra diri psikologis berdasarkan atas pikiran, perasaan, dan emosi.
b.  Song dan Hattie (dalam Nia, 2011 :  ) mengemukakan bahwa konsep diri terdiri atas konsep diri akademis dan non akademis. Selanjutnya konsep diri non akademis dapat dibedakan menjadi konsep diri sosial dan penampilan diri. Jadi menurut Song dan Hattie, konsep diri secara umum dapat dibedakan menjadi konsep diri akademis, konsep diri sosial, dan penampilan diri.
e.   Menurut (Mulyana, 2000:7)  menyatakan konsep diri adalah pandangan individu mengenai siapa diri individu, dan itu bisa diperoleh lewat informasi yang diberikan lewat informasi yang diberikan orang lain pada diri individu
Berdasarkan kajian-kajian teori di atas, maka dasar teori yang digunakan untuk menyusun kisi-kisi konsep diri adalah gabungan dari teori Hurlock dan teori Song & Hattie yang menyatakan konsep diri adalah gabungan dari keyakinan yang dimiliki individu tentang mereka sendiri yang meliputi karakteristik fisik, psikologis, sosial, emosional, aspirasi danprestasi.  Dimensi konsep diri mencakup citra diri fisik, citra diri psikologis dan konsep diri sosial. Indikator citra diri fisik biasanya berkaitan dengan penampilan, indikator citra diri psikologis berdasarkan atas pikiran, perasaan, dan emosi. Sedangkan indikator konsep diri sosial adalah pandangan, penilaian siswa terhadap kemampuan bergaul dan kerjasama dengan orang lain.
2.                  Ciri-ciri Konsep Diri
Menurut Calhoun & Acocella (1995), konsep diri merupakan gambaran mental terhadap diri sendiri yang terdiri dari pengetahuan tentang diri, pengharapan bagi diri dan penilaian terhadap diri sendiri. Salah satu ciri dari konsep diri yang negatif akan terkait secara langsung dengan pengetahuan yang tidak tepat terhadap diri sendiri, pengharapan yang tidak realistis atau mengada-ada, serta harga diri yang rendah. Untuk menghindari hal tersebut, Sheerer (dalam Cronbach, 1963) memformulasikan ciri-ciri konsep diri positif yang selanjutnya mengarah pada penerimaan diri individu, sebagai berikut:
·         mempunyai keyakinan akan kemampuan dirinya dalam menghadapi kehidupan yang dijalaninya,
·         menganggap dirinya berharga sebagai seorang manusia yang sederajat dengan manusia lainnya,
·         mampu menempatkan dirinya pada kondisi yang tepat sebagaimana orang lain, sehingga keberadaannya dapat diterima oleh orang lain,
·         bertanggung jawab atas apa yang telah dilakukannya,
·         menyadari dan tidak merasa malu akan keadaan dirinya,
·         kelemahan yang dimilikinya tidak membuatnya menyalahkan dirinya sendiri, sebagaimana ia mampu menghargai setiap kelebihannya,
·         memiliki obyektivitas terhadap setiap pujian ataupun celaan, dan
·         tidak mengingkari atau merasa bersalah atas dorongan-dorongan emosi yang ada pada dirinya.

Manfaat  Mengetahui Konsep Diri
Dengan adanya konsep diri individu memandang atau menilai dirinya sendiri akan tampak jelas dari seluruh perilakunya, dengan kata lain perilaku seseorang akan sesuai dengan cara individu memandang dan menilai dirinya sendiri. Apabila individu memandang dirinya sebagai seorang yang memiliki cukup kemampuan untuk melaksanakan tugas, maka individu itu akan menampakan perilaku sukses dalam melaksanakan tugasnya. Sebaliknya apabila individu

LANDASAN TEORI
A. KONSEP DIRI
Dalam kamus besar bahasa Indonesia istilah konsep memiliki arti gambaran, proses atau hal-hal yang digunakan oleh akal budi untuk memahami sesuatu. Istilah diri berarti bagian-bagian dari individu yang terpisah dari yang lain. Konsep diri dapat diartikan sebagai gambaran seseorang mengenai dirinya sendiri atau penilaian terhadap dirinya sendiri (KBBI, 2008).
Konsep diri merupakan sebuah konstruk psikologis yang telah lama menjadi pembahasan dalam ranah ilmu-ilmu sosial (Marsh & Craven, 2008). Shavelson, Hubner, & Stanton (1976) menyatakan bahwa konsep diri merupakan persepsi seseorang terhadap dirinya sendiri, dimana persepsi ini dibentuk melalui pengalaman dan interprestasi seseorang terhadap dirinya sendiri. Marsh (1990) juga menambahkan bahwasanya konsep diri merupakan nilai dari hasil proses pembelajaran yang dilakukan dan dari hasil situasi psikologis yang diterima.
Menurut Purkey (1988), konsep diri merupakan totalitas dari kepercayaan terhadap diri individu, sikap dan opini mengenai dirinya, dan individu tersebut merasa hal tersebut sesuai dengan kenyataan pada dirinya. Menurut Rice & Gale (1975) konsep diri terdiri diri dari berbagai aspek, misalnya aspek sosial, aspek fisik, dan moralitas. Konsep diri merupakan suatu proses yang terus selalu berubah, terutama pada masa kanak-kanak dan remaja. Menurut Gage dan Berliner (1998) selain merupakan cara bagaimana individu melihat tentang diri mereka sendiri, konsep diri juga mengukur tentang apa yang akan dilakukan di masa yang akan datang, dan bagaimana mereka mengevaluasi performa diri mereka.
Konsep diri merupakan hal yang penting dalam kehidupan sebab pemahaman seseorang mengenai konsep dirinya akan menentukan dan mengarahkan perilaku dalam berbagai situasi. Jika konsep diri seseorang negatif, maka akan negatiflah perilaku seseorang, sebaliknya jika konsep diri seseorang positif, maka positiflah perilaku seseorang tersebut (Fits dan Shavelson, dalam Yanti, 2000). Hurlock (1999) menambahkan bahwasanya konsep diri individu dapat menentukan keberhasilan dan kegagalan seseorang dalam hubungannya dengan masyarakat.
Dari beberapa definisi di atas, dapat disimpulkan bahwasanya konsep diri adalah sebuah pandangan ataupun persepsi individu mengenai dirinya sendiri yang terbentuk melalui interaksi dengan lingkungan serta berpengaruh terhadap aktivitas kehidupan individu tersebut. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan teori konsep diri Shavelson ,dkk (1976).

Perkembangan Teori Konsep diri
Freud pada tahun 1900 mengungkapkan bahwasanya hal yang terpenting dari diri individu adalah proses mental. Freud mengatakan bahwasanya konsep diri merupakan sebuah unit psikologis yang paling dasar untuk memahami proses mental individu. Konsep ini terus dikembangkan oleh Freud dalam perkembangan teori ego dan dalam interpretasi terhadap diri individu. Dalam perkembangannya, konsep diri semakin luas digunakan dalam dunia terapi dan konseling. Lecky pada tahun 1945 menggunakan istilah konsistensi diri yang mengacu pada dasar-dasar perilaku individu dalam terapi dan pada tahun 1948, Raimy memperkenalkan
istilah konsep diri dalam wawancara konseling karena ia melihat bahwasanya dasar-dasar dari konseling adalah bagaimana individu tersebut melihat dirinyasecara utuh dalam konsep dirinya (Purkey, 1988). Selanjutnya, Roger pada tahun 1947 mencoba untuk mengembangkan pola “self” dalam sebuah sistem psikologis. Roger menilai bahwa ―self” merupakan dasar atau hal utama yang menjadi bagian dari kepribadian dan penyesuaian individu. Roger juga mengatakan bahwasanya ―self” merupakan produk sosial yang tumbuh dari proses interpersonal yang dilakukan. Teori konsep diri semakin berkembang pada tahun 1970 sampai tahun 1980-an dengan pola konsep diri umum. Pada saat itu semakin banyak peneliti yang menyadari betapa pentingnya mempelajari konsep diri karena konsep diri sangat mempengaruhi perilaku individu. Dalam permasalahan seperti penggunaan alkohol, permasalahan keluarga, penyalahgunaan obat-obatan, masalah akademis dan lain sebagainya,
sangat dipengaruhi oleh konsep diri seseorang. Sehingga banyak para peneliti mengembangkan suatu cara bagaimana agar dapat menguatkan konsep diri untuk menjadi lebih baik (Purkey, 1988).
Pada awalnya konsep diri merupakan suatu konstruk yang bersifat umum atau yang lebih dikenal dengan istilah unidimensional (Prasetyo, 2006). Konsep diri umum merupakan generalisasi pemahaman konsep diri tanpa melihat deskripsi spesifik dari apa yang dilihat secara khusus. Hal ini mengandung arti bahwa konsep diri umum merupakan pemahaman seorang individu terhadap diri mereka secara umum tanpa melihat bagian-bagian yang lebih spesifik dari diri mereka (Puspasari, 2007).
Perkembangan konsep diri selanjutnya lebih mengarah pada konsep diri yang bersifat spesifik atau yang lebih dikenal dengan istilah multidimensional. Konsep diri spesifik merupakan pola penilaian konsep diri individu yang melihat ke dalam perspektif yang lebih luas terhadap diri individu, sehingga bisa mendapatkan gambaran diri individu dari berbagai sudut pandang yang beragam dan dinamis (Metivier, 2009). Jika hanya ada satu penjelasan mengenai konsep diri unidimensional, maka pada konsep diri multidimensional dapat melihat diri seseorang dari berbagai konteks, seperti konsep diri spiritual, konsep diri sosial, konsep diri terhadap lingkungan dan lain sebagainya (James, dalam Metivier, 2009). 
Pada seperempat abad terakhir, penelitian mengenai konsep diri semakin meningkat. Hal ini disebabkan karena keinginan para peneliti untuk mengembangkan konstruk konsep diri pada diri individu. Salah satu pola pengembangan konsep diri yang banyak dilakukan adalah dengan menggunakan pola konsep diri yang bersifat multidimensional (Marsh & Craven, 2008). Marsh
& Parker (dalam Metivier, 2009) mengatakan bahwasanya pola pengukuran konsep diri yang bersifat multidimensional memiliki beberapa keuntungan dibandingkan dengan pola unidimensional. Dalam konsep diri yang bersifat multidimensional kita dapat melihat karakteristik individu dari berbagai macam konteks pada diri individu, dapat memprediksi perilaku seseorang, dapat membantu menyelesaikan permasalahan pada individu, dan dapat mengembangkan integrasi antar konstruk daripada konsep diri yang bersifat unidimensional.
Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan konsep diri yang bersifat multidimensional. Hal ini dilakukan untuk mengetahui konsep diri secara spesifik sehingga mendapatkan berbagai macam konsep diri individu dari sudut pandang yang beragam selain dari beberapa keunggulan pola konsep diri multidimensional yang telah disebutkan di atas.

Jenis dan Struktur Konsep Diri
Shavelson, Hubner, dan Stanton (1976) membagi konsep diri menjadi beberapa bagian, yakni general-esteem, konsep diri akademis dan konsep diri non akademis. Dimana konsep diri akademis dan non akademis dibagi menjadi beberapa bagian lagi seperti dalam tabel berikut :
Struktur konsep diri Shavelson, Hubner, & Stanton (1976)
Konsep diri secara umum dibagi ke dalam 4 jenis konsep diri, yakni :
1. Konsep diri akademis (Academic self concept), yang terdiri dari konsep diri mengenai kemampuan berbahasa inggris, sejarah, matematika, dan ilmu pengetahuan alam.
2. Konsep diri Sosial (social self-concept), yang terdiri dari konsep diri teman sebaya (peers) dan konsep diri terhadap orang berpengaruh (significant others).
3. Konsep diri emosional (emotional self-concept).
4. Konsep diri fisik (physical self-concept), yang terdiri dari konsep diri kemampuan fisik dan konsep diri mengenai penampilan diri. Kemudian pada tahun 1985, Marsh merevisi struktur konsep diri bersama dengan Shavelson dengan pola sebagai berikut :

Struktur Konsep Diri Marsh & Shavelson (1985)
Dalam pola ini Marsh & Shavelson tidak membentuk pola hierarkial. Namun lebih kepada pola multifacet dari general konsep diri kepada banyak jenis konsep diri seperti konsep diri penampilan fisik, hubungan dengan orangtua, akademis, problem-solving, spiritual, hubungan teman sebaya baik yang sejenis maupun lawan jenis, kejujuran, emosional dan lain-lain. Marsh & Shavelson (1985) dalam teorinya membuat 13 jenis konsep diri yang dapat diteliti dalam diri individu, yakni :
1. Konsep diri umum (general self-concept).
2. Konsep diri akademis (academic self-concept).
3. Konsep diri matematika (mathematic self-concept).
4. Konsep diri problem-solving.
5. Konsep diri spiritual.
6. Konsep diri kestabilan emosi (emotional self-concept).
7. Konsep diri yang berhubungan dengan teman yang berjenis kelamin sama (same sex peers self-concept).
8. Konsep diri yang berhubungan dengan teman yang berjenis kelamin berbeda (opposite sex peers self-concept).
9. Konsep diri hubungan orangtua (parent self-concept).
10. Konsep diri penampilan fisik (physical appearance self-concept).
11. Konsep diri kekuatan fisik (physical ability self-concept).
12. Konsep diri verbal (verbal self-concept).
13. Konsep diri kejujuran (honesty self-concept).
Dari berbagai macam jenis konsep diri Marsh & Shavelson di atas, peneliti hanya mengambil tujuh jenis konsep diri yang akan diteliti. Hal ini dilakukan peneliti karena ketujuh jenis konsep diri ini dianggap berpengaruh oleh peneliti terhadap proses mentoring Agama Islam yang dilaksanakan. Ketujuh jenis konsep diri tersebut adalah :
1. konsep diri akademis, dalam prosesnya mentoring mengajarkan tentang motivasi belajar dan strategi untuk memaksimalkan potensi akademis peserta mentoring.
2. konsep diri problem-solving, dalam prosesnya mentoring melatih peserta untuk berfikir untuk memecahkan permasalahan yang ada.
3. konsep diri spiritual, dalam prosesnya mentoring memiliki tujuan utama untuk meningkatkan potensi spiritual dalam diri peserta.
4. konsep diri kejujuran, dalam prosesnya mentoring mengajarkan tentang moral (akhlak) yang di dalamnya terdapat poin-poin mengenai kejujuran.
5. konsep diri parent-relation, dalam prosesnya mentoring juga membicarakan mengenai cara berbakti dengan orangtua.
6. konsep diri emotional, dalam prosesnya mentoring melatih peserta untuk dapat mengelola diri dan emosinya.
7. konsep diri umum (general-esteem), dalam prosesnya mentoring memiliki tujuan untuk membangun individu untuk menjadi insan yang lebih berguna secara paripurna (keseluruhan).

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Konsep Diri
Konsep diri seseorang dipengaruhi oleh faktor internal dan faktor eksternal (Marsh, 2003; Burger, 2008). Faktor internal tersebut diantaranya adalah intelegensi, motivasi dan emosi .
Dari berbagai faktor yang mempengaruhi konsep diri seseorang, maka peneliti mengambil kesimpulan bahwasanya faktor-faktor utama yang mempengaruhi konsep diri pada mahasiswa adalah :
1. Faktor internal :
a. Intelegensi, motivasi dan emosi (karakter mahasiswa).
b. Kompetensi personal (kemampuan dan keterampilan tertentu yang dimiliki oleh mahasiswa).
c. Episode dalam kehidupan (pengalaman mahasiswa yang berpengaruh besar dalam hidup, seperti masa sekolah).
d. Episode keberhasilan dan kegagalan (pengalaman dalam memanfaatkan peluang, misalnya pengalaman berorganisasi).
e. Keberhasilan personal (pengalaman berprestasi).
f. Status kesehatan (riwayat kesehatan mahasiswa).
g. Penampilan fisik (kepercayaan diri mahasiswa terhadap penampilannya).
h. Aktualisasi diri, (misalnya hobi mahasiswa).
i. Persepsi tentang kegagalan (pengalaman kegagalan di masa lalu).
j. Jenis kelamin.
k. Religiusitas.
l. Usia.
m. Tingkat stres.

2. Faktor Eksternal
a. Orangtua dan keluarga (hubungan dengan orangtua, termasuk tempat tinggal individu).
b. Teman sebaya (misalnya teman bermain/peers,teman kuliah, dan lainlain).
c. Peran pendidik (misalnya peran dosen, pementor, pembina, dan lain-lain).
d. Kebudayaan (misalnya suku, agama, adat istiadat, dan lain-lain).
e. Status sosial (misalnya status pendidikan orangtua, pendapatan orangtua, dan lain-lain).
f. Pengalaman interpersonal (misalnya riwayat pembinaan yang pernah dilakukan).
Dalam penelitian ini, hal yang difokuskan untuk meningkatkan konsep diri mahasiswa muslim adalah melalui faktor religiusitas dari faktor internal, dan peran pendidik dari faktor eksternal.

Pengukuran Konsep Diri
Burns (dalam Strein, 1995) mengemukakan dua cara yang dapat dilakukan untuk mengukur konsep diri, yaitu :
1. Melalui respon atas aitem-aitem dalam skala konsep diri spesifik yang diberikan kepada subjek.
2. Melalui pengamatan individual atas pola perilaku yang muncul dari subjek. Untuk metode pelaporan yang dapat digunakan dalam mengukur konsep diri individu di antaranya :
1. Skala Penilaian
Skala ini dapat berupa kuesioner, inventori, atau skala-skala sikap yang diberikan kepada subjek.
2. Daftar ceklist
Metode ini mengarahkan subjek untuk memilih aitem-aitem yang sesuai dengan kondisi subjek yang sebenarnya.
3. Teknik Sort-Q
Metode ini mengarahkan subjek untuk melakukan sortir ataupun pengurutan terhadap kumpulan aitem-aitem yang ada dalam tes. Sehingga didapatkan sebuah kontinum penilaian yang sesuai dengan diri subjek.
4. Metode respons yang tidak terstruktur (bebas)
Metode ini meminta subjek untuk memberikan jawaban yang tidak terstruktur (bebas). Jenis soal yang ditawarkan biasanya tertulis dalam bentuk essay, dimana subjek disuruh untuk menuliskan kata-kata dalam kolom yang kosong.
5. teknik-teknik proyektif
Teknik ini sering digunakan dalam mengukur konsep diri yang tidak sadar(unconscious self-concept).
6. Wawancara
Alat ukur yang dapat digunakan dalam mengukur konsep diri ini cukup banyak. Marsh (1992) membuat beberapa alat ukur konsep diri yang dapat digunakan di berbagai negara, diantaranya adalah SAS (Sydney Attributional Scale), SDQI, SDQII, & SDQIII (Self Description Questionnaire), ASDQI & ASDQII (Academic Self Description Questionnaire), EASDQ (Elite Athlete Self Description Questionnaire), PSDQ (Physical Self Description Questionnaire), dan
NSCQ (Nurse Retention Index Questionnaire).
Selain di atas, alat ukur konsep diri lainnya yang sering digunakan adalah adalah Tennessee Self-Concept Scale –Second Edition, Coopersmith Self-Esteem Inventory, Multidimensional Self Concept Scale, Piers-Harris Children’s Self- Concept Scale (Ellie, Hoffman, & Kemple, 2011). Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan alat ukur SDQIII (Self Description Questionnaire) yang dikembangkan oleh Marsh (1984). SDQIII merupakan alat ukur lanjutan dari SDQI dan SDQII. Alasan peneliti menggunakan alat ukur ini karena SDQIII dapat digunakan untuk subjek yang berusia remaja akhir hingga dewasa. Sejalan dengan tujuan penelitian ini adalah untuk mengukur konsep diri remaja akhir (mahasiswa). Sedangkan metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah melalui teknik ceklist dan wawancara. Teknik ceklist dilakukan dengan memberikan ceklist pada skala SDQIII yang sesuai dengan keadaan diri subjek. Teknik wawancara dilakukan untuk memperkuat hasil penelitian dari skala.

TIGA BAGIAN UTAMA KONSEP DIRI 
Menurut Brian Tracy, self-concept Anda memiliki tiga bagian utama yaitu:
Self-Ideal (Diri Ideal),
Self-Image (Citra Diri), dan
Self-Esteem (Jati Diri).
Ketiga elemen tersebut merupakan satu kesatuan yang membentuk kepribadian Anda, menentukan apa yang biasa Anda pikir, rasakan, dan lakukan, serta akan menentukan segala sesuatu yang terjadi kepada diri Anda.

Self-Ideal (Diri Ideal)
Self-ideal adalah komponen pertama dari self-concept Anda.
Self-ideal Anda terdiri dari :
harapan,
impian,
visi,
idaman
Self-idealterbentuk dari kebaikan, nilai-nilai, dan sifat-sifat yang paling Anda kagumi dari diri Anda maupun dari orang lain yang Anda hormati. Self-ideal adalah sosok seperti apa yang paling Anda inginkan untuk bisa menjadi diri Anda, di segala bidang kehidupan Anda. Bentuk ideal ini akan menuntun Anda dalam membentuk perilaku Anda.

Self-Image(Citra Diri)
Bagian kedua self-concept Anda adalah self-image. Bagian ini menunjukkan bagaimana Anda membayangkan diri Anda sendiri, dan menentukan bagaimana Anda akan bertingkah laku dalam satu situasi tertentu. Karena kekuatan self-image
Semua perbaikan dalam hidup Anda akan dimulai dari perbaikan dalam self-imageself-image

Self-Esteem (Jati Diri)
self-esteem adalah seberapa besar Anda menyukai diri Anda sendiri. Semakin Anda menyukai diri Anda, semakin baik Anda akan bertindak dalam bidang apa pun yang Anda tekuni. Dan, semakin baik performansi Anda, Anda akan semakin menyukai diri Anda. Bagian ini adalah komponen emosional dalam kepribadian Anda.



DAFTAR PUSTAKA
http://belajarpsikologi.com/
http://Wikipedia.com/
Ebook Chapter II USU/Konsep Diri
Raras Sutataminingsih : Konsep Diri, 2009
USU Repository ? 2008
Burns, R.B. 1993. Konsep Diri, Teori, Pengukuran, Perkembangan, dan Perilaku. 
Jakarta, Penerbit Arcan.




Tags : makalah konsep diri dalam keperawatan makalah konsep diri pdf artikel konsep diri latar belakang konsep diri contoh konsep diri seseorang contoh konsep diri dalam kehidupan sehari-hari kumpulan contoh konsep diri contoh konsep diri pribadi

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Tags :

Related : Makalah Konsep Diri serta Ciri-Cirinya

0 komentar:

Post a Comment